Minggu, 31 Januari 2016

Kau tahu?

Kau tahu?
Sisi terpurukku adalah bersama bayangmu
Kau tahu?
Luka terperihku adalah goresan jejak bayangmu

Kau tahu?
Sudah berapa detik aku menanti pinanganmu?
Kau tahu?
Sudah berapa sakit yang aku abaikan untuk bersamamu?

Kau tahu?
Betapa aku ingin mencium setiap jari kakimu?
Kau tahu?
Betapa aku rindu akan aroma tubuhmu?

Kau tahu?
Seperti apa rasa terlena oleh kata cintamu?
Kau tahu?
Seperti apa rasa sedih ditinggalkanmu?

Kau tahu?
Bagaimana aku melupakanmu?
Kau tahu?
Bagaimana aku menghapus kenanganmu? 

Aku Harus Apa?

Aku harus apa? 
Menundukan kepala, menangis dan diam saja? 
Atau aku harus berjalan dan biarkan sakit ini tersemat hingga aku mati?

Sungguh, aku bukan ciptaan terbaik tuhan yang bisa berjalan dengan sukma cacat seperti itu

Haruskah aku bersenang-senang dan anggap semua perih tak pernah terjadi? 
Aku tidak sehebat itu. 

Jika memang aku pantas menelan pahit ini, lalu sampai kapan aku membutuhkan pemanis buatan untuk memudarkan pahit dilidahku ini? 

Bagaimana Jika Ayah dan Ibu Berpisah?

Ayah adalah kehidupanku
Dan ibu adalah nyawaku
Setelah aku bernyawa, kehidupan mengajarkanku
Bagaimana jika ayah dan ibu berpisah?

Aku menangis ayah menggendongku
Aku terluka ibu mengobatiku
Setelah diobati aku digendong
Bagaimana jika ayah dan ibu berpisah?

Ayah adalah guruku
Ibu adalah juru masakku
Setelah lelah belajar, aku menyantap masakan ibuku
Bagaimana jika ayah dan ibu berpisah? 

Dirumah ayah dan ibu saling membantu
Dirumah ayah dan ibu saling menjagaku
Lalu bagaimana jika ayah dan ibu berpisah? 

Dia

Dia bilang aku malaikat
Dia juga bilang aku iblis
Mana yang benar? 

Dia memelukku
Dia juga hempaskanku
Dia lembut padaku
Dia juga teriakkanku

Dia alasanku tersenyum
Dia juga alasanku menangis
Dia membantuku
Dia juga tak perduli padaku 

Dia katakan cinta padaku
Dia juga katakan benci padaku
Mana yang benar? 

Apa Salahku?

Dia bicara cinta
Namun kerabatnya menyebut itu dusta
Dia tunjukan cinta
Namun kerabatnya menyebut itu malapetaka

Sudah lama aku menjadi cintanya
Banyak juga suka yang kami cipta
Tapi mengapa kerabatnya membenciku? 
Apa salahku?

Tidak sekali aku dibubuhi hinaan
Tidak sekali aku menerima celaan
Tidak sekali aku menyaksikan kekuasaan
Dan tidak sekali aku hanya dianggap kotoran

Hati ini seperti dihantam
Sesak ini seperti tenggelam
Rasa ini seperti dendam
Dan aku diperintahkan hanya untuk diam 

Apa salahku? 

Mereka adalah ...

Pagi ini terasa berbeda
Latar musikku bergemericikan hujan
Dinginnya seakan memeluk 
Dan semakin lama semakin menusuk

Aku memang sendiri
Namun mereka mengepungku
Mereka tertawa, menangis, tersenyum dan bahkan menciumku

Mereka membelaiku
Hingga aku hanya ingin bersandar pada mereka
Mereka membisikkan syair
Bahasa indah dengan wajah rupawan
Mereka seperti lekatan 
Ya, mereka adalah bayanganmu



Nisan diatas Kebahagiaanku

Mungkin pelangi itu pernah ada
Merangkul senyumku dan menenggelamkan aku dalam indahnya cinta
Mungkin pelangi itu pernah ada
Namun kini air mata sudah menjadi genangan yang tak kunjung surut di pelupuk mata

Aku tidak ragu mengakui aku mencintainya
Akupun tidak takut melepasnya 

Ada satu masa dimana kami bahagia
Aku ingat ketika pertama menyentuhnya
Dia tersenyum dan menggenggam jemariku
Namun kini Semua hancur
Dia musnahkan masa itu hingga biarkan aku meronta di antara perih
Dia mengubur senyum dan kemudian tancapkan nisan di atas segala kebahagiannku